Kenapa Bisnis Minuman Bubble Tea Masih Jadi Tren
Bubble Tea: Dari Tren Musiman Menjadi Budaya Konsumsi
Saat pertama kali hadir di Indonesia lebih dari satu dekade lalu, minuman bubble tea atau boba sempat dianggap sebagai tren sementara. Namun hingga kini, bahkan di tahun 2025, bubble tea tetap eksis dan justru semakin kuat mendominasi pasar minuman kekinian. Antrean panjang di gerai-gerai besar seperti Chatime, Xing Fu Tang, dan Kokumi menjadi bukti bahwa minuman ini bukan sekadar gaya hidup sesaat, melainkan sudah menjadi bagian dari budaya konsumsi masyarakat urban.
---
Apa Itu Bubble Tea dan Mengapa Banyak yang Menyukainya?
Bubble tea berasal dari Taiwan pada tahun 1980-an. Minuman ini biasanya terdiri dari teh, susu, gula, dan topping berupa bola-bola tapioka (boba) yang kenyal. Inovasi terus berkembang: topping baru seperti jelly, pudding, cheese cream, hingga popping boba kini memperkaya pilihan konsumen.
Faktor daya tarik utama bubble tea:
Tekstur unik boba yang kenyal
Kombinasi rasa manis, creamy, dan segar
Varian rasa tak terbatas (matcha, taro, cokelat, kopi, buah)
Penyajian visual yang menarik dan Instagramable
---
Angka Konsumsi Bubble Tea Terus Meningkat
Menurut data riset pasar dari Statista dan Euromonitor, pasar bubble tea global diproyeksikan mencapai USD 6,5 miliar pada 2027. Di Indonesia, pertumbuhan tahunan industri minuman berbasis teh, terutama yang mengandung topping, berada di kisaran 15–20% per tahun.
Survei dari platform ojek online terbesar di Indonesia juga menunjukkan bahwa bubble tea termasuk dalam lima besar minuman paling banyak dipesan via aplikasi food delivery selama tiga tahun terakhir. Permintaan ini tersebar merata di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, hingga kota menengah seperti Jember dan Makassar.
---
Mengapa Bubble Tea Bertahan di Tengah Persaingan Ketat?
Ada beberapa alasan kuat mengapa bisnis bubble tea tidak meredup meskipun bermunculan tren minuman lain seperti kopi susu literan, minuman herbal, atau teh tradisional.
1. Segmentasi Pasar yang Luas
Bubble tea digemari oleh semua kalangan, dari remaja hingga dewasa muda. Karakteristik rasa manis dan tampilan warna-warni membuatnya mudah diterima bahkan oleh orang yang tidak suka teh.
2. Inovasi Produk yang Tak Pernah Henti
Setiap tahun, brand bubble tea besar maupun lokal berlomba menciptakan varian baru — dari rasa, topping, hingga bentuk kemasan. Beberapa bahkan menghadirkan varian “bubble tea sehat” dengan oat milk, rendah gula, atau topping vegan-friendly.
3. Pengaruh Sosial Media
Bubble tea sangat viral-friendly. Posting minuman boba di Instagram atau TikTok bukan hanya sekadar pamer konsumsi, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Brand pun memanfaatkan ini dengan membuat kampanye media sosial yang menarik.
4. Brand Experience
Gerai bubble tea kini lebih dari sekadar tempat beli minuman. Banyak brand menyulap outlet mereka menjadi spot nongkrong dengan desain estetik dan konsep layanan yang ramah milenial.
---
Bubble Tea Lokal: Menyaingi Brand Internasional
Menariknya, bukan hanya pemain besar dari luar negeri yang mendominasi. Brand lokal seperti Haus!, Street Boba, Ban Ban, dan Gulu Gulu menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Mereka berhasil menghadirkan bubble tea dengan harga lebih terjangkau, tanpa mengorbankan rasa dan kualitas.
Bahkan banyak pelaku UMKM kini mulai menjalankan waralaba minuman boba dengan modal di bawah 5 juta rupiah, menawarkan konsep booth kecil atau delivery-only.
---
Bubble Tea dan Peluang Waralaba yang Menjanjikan
Bisnis bubble tea sangat cocok dijadikan franchise karena:
Resep dan SOP yang bisa distandardisasi
Bahan baku bisa disuplai pusat
Model operasional yang sederhana
Permintaan tinggi dan konstan
Banyak waralaba boba lokal saat ini menawarkan paket kemitraan dengan skema menarik, seperti:
Tanpa royalti
Modal mulai dari Rp3 juta hingga Rp15 juta
Dukungan pelatihan online dan promosi digital
---
Tantangan dalam Bisnis Bubble Tea
Meski menjanjikan, bukan berarti bisnis ini tanpa risiko. Beberapa tantangan yang sering dihadapi antara lain:
Persaingan harga dan rasa antar brand
Ketergantungan pada bahan baku impor (tapioka, creamer)
Perubahan tren konsumsi (sehat, less sugar, dll)
Namun dengan inovasi terus-menerus, branding kuat, dan layanan pelanggan yang baik, tantangan ini dapat diatasi.
Kesimpulan
Bubble tea bukan sekadar tren, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Konsumennya loyal, pasarnya luas, dan potensinya besar. Bagi calon pengusaha, ini adalah jenis usaha yang tidak hanya menjual minuman, tapi juga menjual pengalaman, gaya, dan inovasi.
Jika Anda mencari bisnis minuman yang terus tumbuh dan fleksibel dijalankan, bubble tea adalah jawabannya. Mulai dari brand besar hingga waralaba kecil, semuanya punya peluang untuk berkembang — asalkan dijalankan dengan strategi yang matang.
🍹 Tertarik Menjalankan Usaha Bubble Tea?
Kunjungi halaman \[Daftar Waralaba Minuman] kami dan temukan franchise bubble tea yang cocok dengan budget dan target pasar Anda.
Atau, jika Anda adalah pemilik brand minuman bubble tea, \[Pasang Iklan Sekarang] dan dapatkan exposure dari ribuan calon mitra bisnis di seluruh Indonesia.